Rabu, 06 Juli 2011

PENDIDIKAN-Yuk, Berburu Buku di "Pesta Buku Jakarta"

Bingung mengisi akhir pekan? Acara tahunan "Pesta Buku Jakarta" mungkin bisa menjadi alternatif untuk mengisi waktu Anda di akhir pekan ini. Dalam rangka HUT Kota Jakarta ke-484 tahun, kembali digelar Pesta Buku Jakarta (PBJ) 2011 yang diselenggarakan oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DKI Jakarta. Acara ini berlangsung 2-10 Juli 2011. Tahun ini, PBJ mengambil tema yang sangat inspiratif, yaitu "Buku Mengubah Hidupku" yang memadukan unsur pendidikan, pameran dan hiburan.
"Perhelatan PBJ yang ke 21 ini menjadi momentum yang sangat berarti. Dengan tema Buku Mengubah Hidupku, sebuah tema yang bercerita tentang dahsyatnya pengaruh buku terhadap hidup dan kehidupan kita. Tema ini akan menjadi acuan utama dalam setiap aktifitas pameran baik dalam bentuk kegiatan atau acara maupun tampilan fisik pameran itu sendiri," kata Ketua Panitia, Mappu Tutu, dalam sambutannya ketika membuka PBJ 2011, Sabtu (2/7/2011), di Istora, Senayan, Jakarta.
Pesta Buku tahun ini berlangsung meriah karena diikuti oleh lebih dari 200 penerbit, penyalur dan toko buku, perpustakaan, lembaga perbukuan, penerbit media massa, lembaga pendidikan, dan komunitas perbukuan. Dalam sambutannya, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prijanto menyampaikan harapannya agar acara seperti ini bisa digelar sesering mungkin. Sebab, ia menilai,  dapat membantu masyarakat dan sebagai upaya menyampaikan manfaat-manfaat yang terkandung di dalam buku.
"Bagaimana pesta buku ini bisa sering-sering digelar, karena pesta seperti ini sangat dibutuhkan masyarakat. Bisa juga sebagai tempat wisata liburan sekolah bagi anak-anak, karena hal-hal yang bersifat abadi ada di dalam buku," ujar Prijanto.
PBJ 2011 menyajikan berbagai buku dengan beragam tema, mulai dari buku anak dan remaja, buku umum, buku pelajaran dan sebagainya. Para pengunjung juga akan dimanjakan dengan diskon besar-besaran hingga 70 persen. Selain itu, sejumlah acara juga akan digelar untuk menambah wawasan dan menghibur pengunjung PBJ 2011. Seperti launching buku, bedah buku, talkshow dan jumpa penulis, lomba konser drum band, fun bike with book, lomba mewarnai, lomba membuat komik dan acara-acara pendukung lainnya.

PENDIDIKAN-UGM: Sumbangan Itu untuk Subsidi Silang

Keluhan muncul daricalon mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Benny. Putrinya yang diterima di Fakultas Ekonomi UGM melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dikenai Sumbangan Peningkatan Mutu Akademik (SPMA) sebesar Rp 40 juta. Jumlah ini berdasarkan pendapatan orangtua (ayah dan ibu) yang diisi saat mendaftar SNMPTN. Namun, menurut Benny, tidak ada penjelasan mengenai adanya SPMA yang akan dikenakan setelah dinyatakan diterima.
Direktur Administrasi Akademik UGM Dr Budi Prasetyo Widyobroto, saat dihubungi Kompas.com, Jumat (1/7/2011) pagi, menjelaskan, adanya SPMA bagi calon mahasiswa yang diterima melalui jalur SNMPTN sudah diinformasikan sejak pendaftaran. Jika ada orangtua yang mengeluhkan, ia menilai karena adanya informasi yang tidak sampai dari anak ke orangtua.
"Begini, yang kita (UGM) terima ada 5.224 mahasiswa. Kalau ada satu dua orang yang mengaku katanya tidak tahu (SPMA), berarti bisa betul-betul tidak tahu karena tidak diberi informasi oleh anak atau pura-pura tidak tahu," ujar Budi.
Menurut dia, pihak UGM sudah menginformasikan sejak awal bahwa untuk mahasiswa angkatan 2011 diterapkan biaya berkeadilan subsidi silang. "Bagi yang penghasilan sekian, sekian, bebas. Yang penghasilan bapak dan ibu sekian, kena SPMA 1 sampai 4. Sudah diinformasikan. Semua orang yang mau mendaftar ke UGM seharusnya tahu karena sebelum mendaftar SNMPTN, kami menyatakan untuk mengetahui hak dan kewajiban mahasiswa, silakan akses ke laman (situs) masing-masing perguruan tinggi. Ini sama untuk semua perguruan tinggi," paparnya.
Subsidi silang itu, lanjut Budi, karena setiap perguruan tinggi negeri harus menerima mahasiswa dari kalangan tidak mampu sebesar 20 persen. "Lalu, uangnya dari mana untuk membiayai itu? Kebijakan subsidi silang berkeadilan ini sudah sejak 2003 dilaksanakan," ujar Budi.
Ketika ditanya bagaimana mekanisme pembayarannya, apakah harus dalam satu kali pembayaran atau bisa mencicil, Budi hanya mengatakan bahwa sebaiknya mengikuti prosedur yang sudah diinformasikan. "Dari awal sudah diumumkan, bagaimana bagi mereka yang diterima di UGM. Orangtua kalau anaknya mau kuliah, kan, sudah ada persiapan, biayanya berapa. Ikuti saja aturan yang sudah diinformasikan kepada masyarakat. Kalau sudah selesai semua, mengenai itu (cicilan) diproses dan diputuskan pimpinan," kata Budi.
Seperti dikutip dari www.um.ugm.ac.id, besaran SPMA bervariasi untuk setiap jumlah pendapatan orangtua dan fakultas/jurusan. Besaran biaya pendidikan yang harus dibayarkan calon mahasiswa UGM sebagai berikut.
1. Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP): Rp 500.000,00/semester
2. Biaya Operasional Pendidikan (BOP):   
* Program studi kelompok eksakta dan ilmu kesehatan: Rp 75.000,00/SKS/semester   
* Program studi kelompok non-eksakta: Rp 60.000,00/SKS/semester
3. Sumbangan Peningkatan Mutu Akademik (SPMA): SPMA merupakan sumbangan wajib dan dibayarkan satu kali pada waktu mahasiswa masuk. Besaran SPMA disesuaikan dengan kebutuhan fakultas/program studi masing-masing dan ditentukan berdasarkan kemampuan ekonomi orangtua mahasiswa, yaitu:
1. SPMA 0 (beasiswa Bidik Misi, beasiswa PBUTM, beasiswa SPMA Rp 0,-) untuk mahasiswa yang orangtuanya (bapak dan ibu) memiliki pendapatan ≤ Rp. 1.000.000,00
2. SPMA 1 untuk mahasiswa yang orang tuanya (bapak dan ibu) memiliki pendapatan antara Rp. 1.000.001,00 hingga Rp. 2.500.000,00
3. SPMA 2 untuk mahasiswa yang orangtuanya (bapak dan ibu) memiliki pendapatan antara Rp 2.500.000,00 hingga Rp 5.000.000,00
4. SPMA 3 untuk mahasiswa yang orangtuanya (bapak dan ibu) memiliki pendapatan antara Rp 5.000.001,00 hingga Rp 7.500.000,00.
5. SPMA 4 (PBS) untuk mahasiswa yang orang tuanya (bapak dan ibu) memiliki pendapatan ≥ Rp 7.500.000,00
Besaran jumlah SPMA tergantung pada penghasilan orangtua, yang setiap fakultas dan jurusan besarannya berbeda. Untuk Fakultas Ekonomi Jurusan Ilmu Ekonomi, misalnya, sumbangan terendah Rp 10 juta dan tertinggi Rp 40 juta. Sementara, di Fakultas Kedokteran, untuk Pendidikan Dokter, sumbangan terendah Rp 10 juta dan tertinggi hingga Rp 100 juta.

Perempuan Indonesia, Coba Beasiswa Ini!

Dua perempuan Indonesia meraih beasiswa Schlumberger Foundation untuk tahun 2011. Penerima beasiswa menerima sebesar 50,000 dollar AS (sekitar Rp 431 juta) per tahun bagi para perempuan dari negara berkembang yang menempuh program S-3 dan 40,000 dollar AS (sekitar Rp 345 juta) per tahun bagi yang mengikuti program post doctoral pada universitas ternama di negara maju.
Setelah mengikuti serangkaian seleksi yang ketat, dua perempuan Indonesia terpilih untuk mendapatkan beasiswa tersebut, yakni Aretha Aprilia, yang tengah menempuh program S-3 di Department of Energy Science, Kyoto University, Jepang, dan Fenny Dwivany yang tengah menempuh program Post-doctorate bidang pertanian di Queensland University of Technology Australia.
Penelitian yang dilakukan oleh Aretha Aprilia, salah satu penerima beasiswa ini, berfokus pada pengelolaan sampah rumah tangga di Jakarta.
“Saya tertarik dengan kompleksitas dan interkoneksi masalah persampahan sebab tidak hanya menyentuh pada teknis pengelolaan sampah dan dampak lingkungan yang diakibatkan, tetapi juga dampak sosial dan ekonomi bagi rumah tangga dan pemulung. Harapan saya adalah untuk membuat skenario pengelolaan sampah yang tepat untuk masa depan dengan mengedepankan aspek teknik, lingkungan, sosial, dan ekonomi,” kata Aretha, seperti dimuat dalam rilis yang diterima Kompas.com,Kamis (30/6/2011).
Sejak tahun 2004-2011, telah tercatat sebanyak 22 perempuan Indonesia yang menerima beasiswa ini. Bagi Anda yang tertarik mendaftarkan diri mengikuti seleksi beasiswa ini, pendaftaran untuk program ini akan dibuka kembali mulai tanggal 1 September hingga 30 November 2011. Informasi selengkapnya bisa diperoleh di http://www.facultyforthefuture.net.
Program tahunan ini diadakan sejak tahun 2004 dan sejauh ini telah mendanai sebanyak 194 perempuan dari 54 negara. Persyaratan untuk mendaftarkan diri dalam program ini adalah perempuan warga negara dari negara berkembang, tengah mempersiapkan program PhD atau post-doctoral untuk bidang sains (physical sciences) dan disiplin terkait, telah diterima atau telah terdaftar sebagai mahasiswa di universitas yang dituju, memiliki pengalaman mengajar, dan dapat menunjukkan partisipasi aktif dalam mendorong perempuan-perempuan muda bekerja ke dalam ilmu pengetahuan/sains, serta memiliki catatan akademis yang baik.

PENDIDIKAN-Cari Sekolah, Kok, Susah Sekali...

Siti Zakiah (38) mengaku tak bisa tidur semalaman karena memikirkan ke mana anaknya, Khoirul Jefri Pratama (13), akan melanjutkan sekolah. Soal biaya, ia tidak khawatir lagi karena sudah mengantongi uang Rp 4 juta, hasil menabung selama enam tahun. Namun, yang masih mengganjal hatinya adalah sistem penerimaan siswa baru.
Hati Zakiah bertambah resah ketika melihat papan pengumuman di SMP Negeri 9 Salatiga yang memperlihatkan peringkat anaknya di sekolah itu, yakni peringkat ke-141 karena anaknya memiliki nilai ujian nasional 24,2. Padahal, di sekolah tersebut hanya tersedia 173 kursi untuk calon siswa dari dalam kota dan 43 kursi untuk calon siswa dari luar kota.
Ibu dua anak yang tinggal di Kelurahan Candran, Kecamatan Sidomukti, Salatiga, itu mengaku cemas karena pada Kamis (30/6) malam, hari pertama penerimaan peserta didik baru (PPDB), Khoirul sudah berada di peringkat ke-141....

PENDIDIKAN-UI Bebas Sumbangan

Kepala Humas Universitas Indonesia (UI), Vishnu Juwono, mengatakan, mahasiswa yang lolos seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) 2011 dan seleksi masuk (SIMAK) UI 2011 tidak akan dipungut sumbangan apapun di luar ketentuan yang ditetapkan.
Ia menegaskan, semua informasi mengenai biaya sudah disajikan secara transparan di website resmi UI, www.ui.ac.id. "Tidak ada sumbangan yang dibebankan kepada orang tua. Semua kita sajikan secara transparan. Di dalam website, sudah kami ungkapkan mengenai uang pangkal dan lain-lain. Semua jelas dan transparan," kata Vishnu saat dihubungi Kompas.com melalui telepon, Sabtu (2/7/2011) siang.
Aturan itu, sambung Vishnu, merupakan keputusan resmi melalui surat keputusan yang telah ditandatangani oleh Rektor UI. Dalam website tersebut, dijelaskan secara detail tentang komponen apa saja yang harus dibayar. "Bahkan untuk sarjana reguler, mereka berkesempatan memperoleh Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) Berkeadilan," tambahnya.
BOP berkeadilan adalah sebuah mekanisme pengaturan mengenai biaya yang dibebankan kepada mahasiswa yang berasal dari golongan kurang mampu. Dengan BOP Berkeadilan, mahasiswa berhak mendapatkan keringanan biaya yang sangat signifikan. Tentunya jika sesuai dengan persyaratan yang diberlakukan. "Keringanan BOP Berkeadilan sangat signifikan. Mahasiswa bisa hanya membayar Rp 100.000 per semester dan tanpa uang pangkal," kata Vishnu.
Ia menambahkan, "Mereka yang ingin mendapatkan BOP Berkeadilan harus melakukan registrasi setelah resmi diterima. Lalu kami akan malakukan verivikasi dokumen, termasuk meninjau langsung ke lapangan. Kami akan mendatangi tempat tinggalnya, verivikasi ke RT dan RW. Setelah itu, biaya akan ditentukan sesuai formula yang kami dapatkan," tambahnya.
SIMAK UI 2011 rencananya akan dilaksanakan pada Minggu (3/7/2011). Diikuti oleh 36.832 peserta, SIMAK UI akan digelar di sepuluh kota besar di Indonesia. "Salah satu lokasi SIMAK UI 2011 adalah di SMAN 21 Jakarta Timur. Selain Jakarta, kami juga menggelarnya di sepuluh kota besar lain, seperti Depok dan Makassar," ujarnya.

PENDIDIKAN-Kesempatan Masuk PTN Masih Terbuka

Ketua Umum Panitia Pelaksana Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri  2011, Herry Suhardiyanto, mengatakan, kesempatan siswa berprestasi yang gagal dalam SNMPTN  masih terbuka melalui ujian masuk bersama atau jalur masuk yang diadakan setiap perguruan tinggi negeri.
"Ada sejumlah jalur masuk perguruan tinggi negeri (PTN) untuk siswa yang gagal dalam SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) 2011," kata Herry yang juga Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) ketika dihubungi di Bogor, Rabu (29/6/2011) malam. 
Hasil ujian tulis SNMPTN 2011 sendiri sudah dapat diakses secara online sejak malam tadi melalui situs resmi http://www.snmptn.ac.id.   Ia mengatakan, dari 540.953 peserta SNMPTN, yang lolos  sebanyak 118.233 orang. Jumlah tersebut terdiri atas kelompok IPA 56.856 orang dan kelompok ujian IPS 61.377 orang.
"Dengan demikian, sebanyak 422.720 peserta tidak lulus SNMPTN tahun ini," katanya. 
Herry mengatakan, diantara peserta yang gagal tersebut, banyak yang sebenarnya memiliki nilai tinggi. Namun, karena pilihannya pada program studi tertentu yang banyak saingannya, mereka gagal.
"Ada sekitar 150.000 peserta yang hasil tesnya pada SNMPTN cukup tinggi, tetapi gagal karena konsentrasi persaingan pada program studi tertentu saja," katanya.
Ia menyarankan, mereka memanfaatkan kesempatan berikutnya untuk masuk PTN melalui jalur yang ada di setiap PTN. "Misalnya di IPB, awal Juli ini ada ujian talenta masuk," katanya.
Menurut dia,  SNMPTN 2011 juga menyisakan 808 kursi kosong yang tidak terisi karena hasil ujian peserta  yang mendaftarnya di bawah batas persyaratan terendah yang ditetapkan masing-masing PTN.

PENDIDIKAN-Gagal SNMPTN Bukan Akhir Segalanya!

Hari Kamis (30/6/2011) ini, bisa jadi deg-deg "ser" ratusan ribu peserta Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2011 telah berakhir. Ada yang menyambutnya dengan suka, ada pula yang mungkin berduka dan memendam kecewa karena gagal masuk ke perguruan tinggi idaman. Sebagai sebuah kompetisi, SNMPTN  memang sarat dengan persaingan yang sangat ketat. Nah, bagi yang gagal menembus SNMPTN tahun ini, jangan berkecil hati. Gagal SNMPTN bukan akhir segalanya. Atau, seperti judul sebuah lagu, "Dunia belum berakhir". Bagaimana cara mengatasi kecewa?
Dekan Fakultas Psikologi Universitas Bina Nusantara (Binus), Johannes A.A Rumeser mengatakan, para siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi jangan terpaku oleh hasil SNMPTN semata. Ia mengungkapkan, SNMPTN tidak lantas dapat menjamin kesuksesan seseorang.
"Saya punya tiga kata untuk mereka yang tidak lolos, dunia tak seluas daun kelor. Mereka harus jeli melihat peluang dan berpikir cerdas," kata Johannes kepada Kompas.com, Rabu (29/6/2011) malam.
Dihubungi terpisah, dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (UNISBA), Endang Pudjiastuti mengajak para peserta SNMPTN untuk berpikir realistis. Ia juga mengatakan, SNMPTN dapat digunakan untuk mengukur kepandaian minat dan bakat. Ketika tidak lolos, anggap saja karena kurang beruntung.
"Para siswa harus paham dan realistis. Mereka tidak lolos mungkin karena kurang bersaing dalam minat dan bakat (program studi) yang dipilihnya," kata Endang.
"Seharusnya, para siswa yang mendaftar SNMPTN sudah dapat menentukan program studi apa yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Ini seperti lomba, mereka harus tahu potensi. Namun tenang saja, ini kan ajang mengukur diri, anggap saja sedang kurang beruntung karena keliru saat menjawab," tambahnya.
Jadi, jangan terpaku pada kegagalan. Tentukan langkah berikutnya, karena di manapun pasti ada gerbang kesuksesan!